Konsep E-Gov dan Kinerja
oleh: Winda Dwi Gusti/1201590
A. Konsep
E-Government
E-Government ( berasal dari kata bahasa
inggris electronic government disebut juga e-gov, digital government, online
government atau dalam konteks tertentu disebut juga dengan transformasional
government, yaitu penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah untk
memberikan informasi dan pelayanan bagi warganya, urusan bisnis serta hal-hal
lain yang berkenaan dengan pemerintahan).
Electronic
government merupakan suatu proses sistem
pemerintahan dengan memanfaatkan ICT (information, communication and
technology) sebagai alat untuk memberikan kemudahan proses komunikasi dan
transaksi kepada warga masyarakat, organisasi bisnis dan antara lembaga
pemerintah serta stafnya. Sehingga dapat dicapai efisiensi, efektivitas, transparansi
dan pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakatnya(Hartono dkk,2010).
Menurut indrajit (2006: 4-5) electronic government
merupakan suatu mekanisme interaksi baru (modern) antara pemerintah dengan
masyarakat dan kalangan lain yang berkepentingan (stakeholder), dimana
melibatkan penggunaan teknologi informasi dengan tujuan memperbaiki mutu
pelayanan yang selama berjalan.
Electronic
government dilandasi oleh inpres nomor 3 tahun 2003 dimana pengembangan
e-government merupakan upaya untuk mengembangkan penyelenggaraan kepemerintahan
yang berbasis (menggunakan) elektronik dalam rangka meningkatkan kualitas
layanan publik secara efektif dan efisien. Melalui pengembangan e-government
dilakukan penataan sistem manajemen dan proses kerja di lingkungan pemerintah
dengan mengoptimasikan pemanfaatan teknologi informasi.
Pemanfaatan teknologi
informasi tersebut mencakup 2 (dua) aktivitas yang berkaitan yaitu :
(1)
pengolahan data, pengelolaan informasi, sistem manajemen dan proses kerja secara
elektronis;
(2) pemanfaatan kemajuan teknologi
informasi agar pelayanan publik dapat diakses secara mudah dan murah oleh
masyarakat di seluruh wilayah negara.
Untuk
melaksanakan maksud tersebut pengembangan e-government diarahkan
untuk mencapai 4
(empat) tujuan, yaitu :
a. Pembentukan jaringan
informasi dan transaksi pelayanan publik yang memiliki kualitas dan lingkup
yang dapat memuaskan masyarakat luas serta dapat terjangkau di seluruh wilayah
Indonesia pada setiap saat tidak dibatasi oleh sekat waktu dan dengan biaya
yang terjangkau oleh masyarakat.
b. Pembentukan hubungan
interaktif dengan dunia usaha untuk meningkatkan perkembangan perekonomian
nasional dan memperkuat kemampuan menghadapi perubahan dan persaingan
perdagangan internasional.
c. Pembentukan mekanisme
dan saluran komunikasi dengan lembaga-lembaga negara serta penyediaan fasilitas
dialog publik bagi masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam perumusan
kebijakan negara.
d. Pembentukan sistem
manajemen dan proses kerja yang transparan dan efisien serta memperlancar
transaksi dan layanan antar lembaga pemerintah dan pemerintah daerah otonom.
Konsep
pengembangan e-Government menentukan prioritas pengembangan e-Government
suatu lembaga pemerintah, menyangkut hubungan Government to Government
(G2G), Government to Business (G2B) dan Government to Citizen (G2C).
Kesiapan menuju
keberhasilan e-Government menurut Heeks (2001) berkaitan dengan:
1. Infrastruktur legal/hokum. Perlu
adanya perangkat hokum untuk menangkal kejahatan digital, serta melindungi privasi,
sekuriti data/informasi dan transaksi digital perorangan, perusahaan dan
lembaga pemerintah.
2. Infrastruktur kelembagaan. Perlu
adanya instansi khusus yang menangani e-Government yang memberikan
layanan informasi kepada masyarakat termasuk layanan digital.
3. Infrastruktur SDM. Sistem kepegawaian
perlu dapat dikembangkan agar mampu menarik SDM berkualitas professional dalam
bidang telematika untuk ikut berkiprah dalam e-Government milik
pemerintah.
4. Infrastruktur teknologi. Meskipun
teknologi yang diperlukan relative mahal, tapi peluang
kerjasama dengan swasta perlu
dikembangkan dalam membangun infrastruktur teknologi untuk mendukung e-Government.
5. Suport, Capacity, Value
6. Political environment, Leadership,
Planning, Stakeholder, Transparency, Budgets, Technology, Innovation
Penerapan e-government tidak pernah
lepas dari penggunaan teknologi informasi. Penggunaan teknologi informasi
membutuhkan tata kelola teknologi informasi yang baik agar dapat berjalan
sesuai dengan apa yang diharapkan. Tata kelola teknologi informasi merupakan
suatu struktur dap roses pengambilan keputusan teknologi informasi di tingkat
korporat untuk mengarahkan perilaku yang diinginkan insan teknologi informasi
(TI) dan memastikan keberhasilan teknologi informasi (TI) dalam rangka
penciptaan nilai bagi para stakeholder (Jogiyanto dan Abdillah, 2011).
Ada empat hal yang menjadi tujuan
diterapkan e-government menurut Anwar (2003) yaitu:
1. Terciptanya
hubungan secara e-government antara pemerintah dan masyarakatnya sehingga dapat
mengakses berbagai informasi dan layanan dari pemerintah.
2. Melaksanakan
perbaikan dan peningkatan pelayanan masyarakat kearah yang lebih baik dari apa
yang telah berjalan saat ini.
3. Menunjang good governance dan keterbukaan
4. Meningkatkan
pendapatan asli daerah.
Konsep
e-government tersebut dapat mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik,
terutama dari segi efisiensi dan efektivitas kerja pemerintah. Penggunaan
teknologi informasi dalam pemerintahan merupakan suatu perwujudan dari
reformasi birokrasi
Dalam lingkungan instansi pemerintah
penggunaan email sebagai media komunikasi elektronik dalam hal kedinasan
memberikan dampak yang positif terutama dalam menjaga kerahasiaan data dan
informasi Negara dari pihak yang tidaj bertanggung jawab. Penggunna e-mail resmi
pemerintah bagi seluruh pegawai negeri sipil (PNS) merupakan salah satu bentuk penggunaan
teknologi informasi padainstansi pemerintah atau sering disebut dengan
penerapan e-government. E-mail merupakan salah satu media komunikasi yang dalam
penggunaaannya dibutuhkan jaringan yang dapat diandalkan sehingga cepat pulih
dari masalah dan mengirim ulang
komunikasi yang hilang ( Mc. Leod, 2009)
B. Konsep
Kinerja
Kinerja berasal dari pengertian
performance. Ada pula yang member pengertian performance sebagai hasil kerja
atau prestasi kerja. Namun, sebenarnya kinerja mempuyai makna yang lebih luas,
bukan hanya hasil kerja, tetapi termasuk bagaimana proses pekerjaan berlansung.
Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang
mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen,
dan memberikan kontribusi pada ekonomi (Armsrong dan Baron dalam Wibowo, 2012:7)
.
Untuk meningkatkan kinerja dibutuhkan
sebuah perencanaan yang disebut dengan manajemen kerja. Manajemen kinerja
merupakan gaya manajemen dalam mengelola sumber daya yang berorientasi pada
kinerja yang melakukan proses komunikasi secara terbka dan berkelanjutan dengan
menciptakan visi bersama dan pendekatan strategis serta terpadu sebagai
kekuatan pendorong untuk mencapai tujuan organisasi (Wibowo,2012: 9)
Manajemen kinerja memerlukan kerja sama
diantara pegawai, dan komunikasi yang baik diantara pegawai. Penggunaaan e-mail
pemerintah bertujuan sebagai peningkatan tata kelola pemerintah yang baik,
penggunanaan teknologi informasi dapat meningkatkan efesiensi dan efektivitas
kerja serta meningkatkan kinerja pemerintah. Oleh sebab itu perlu adaya sebuah
manajemen yaitu manajemen kinerja. Adapun ruang lingkup prograp manajemen
kinerja menurut Ruky (2001:7) sebagai berikut:
1. Teknologi,
berkaitan dengan peralatan dan metode kerja yang digunakan
2. Kualitas
dari input, termasuk material
3. Kualitas
lingkungan fisik, lay-out tempat kerja dan kebersihan
4. Iklim
dan budaya organisasi
5. Sistem
kompensasi dan imbalan
Mencapai
keberhasilan kinerja, tentu bukanlah hal yang mudah, hal ini juga bisa
dipengaruhi oleh factor-faktor tertentu. Factor-faktor yang mempengarui kinerja
menurut Wirawan (2009: 6-8) yaitu:
1. Factor
internal pegawai, yaitu factor-faktor dari dalam diri pegawai yang merupakan factor bawaan dari lahir dan factor yang di peroleh ketika ia
berkembang seperti bakat dan sikap pribadi, kreativitas, pengetahuan dan
keterampilan, kompetensi, pengalaman kerja, keadaaan fisik dan keadaan
psikologi
2. Lingkungan
internal organisasi
3. Lingkunga
eksternal organisasi
Selain itu terdapat beberapa factor yang
perlu diperhatikan untuk suatu organisasi mempunyai kinerja baik menurut Wibowo
(2012:81-86) yaitu:
1. Pernyataaan
tentang maksud dan nilai
2. Manajemen
strategis
3. Manajemen
sumber daya manusia
4. Pengembagan
organisasi
5. Konteks
organisasi
6. Desain
kerja
7. Fungsionalisasi
8. Budaya
9. Kerja
sama
Untuk mencapai tingkt tertinggi kinerja,
diperlukan secara berimbang dari semua variable yang mempengaruhi kinerja yang
disebut dengan pengukuran kinerja. Kunci untuk menciptakan ukuran kinerja yang
efektif menurut Wibowo: 2012:240-241)
yaitu:
1. Ukuran
mempunyai penggunaa spesifik bagi individu
atau kelompok individu nyata. Ukuran kinerja yang efektif akan selalu
membantuuntuk memonitor, mengontrol, mengelola, mendiagnosis, memperbaiki, atau
merencanakan beberapa aspek pekerjaan menjadi lebih baik
2. Ketetapan
waktu merupakan atribut penting dalam kegunaan, ukuran kinerja yang baik harus
disampaikan pada waktu yang tepat sehingga benar-benar dipergunakan.
3. Harus
diidentifikasikan siapa pengguna yang memerlukan informasi sehingaga dapat
dihindari untuk kemungkinan jatuh pada orang yang tidak tepat
4. Ukura
kinerja bearti dapat dserap dan dimengerti dengan mudah dan cepat.
5. Penyajian
ukuran kinerja harus sesuai dengan pedoman standar
No comments:
Post a Comment